Pages

Nonton Film Indonesia Pertama

Niatnya hari ini nonton pemutaran film dokumenter pertama yang dibuat di Bandung mulai jam 9 pagi di Bioskop Regent. Semangat 45!

Datang ke lokasi jam 8.30. Udah ada beberapa orang, semua penampilannya  nyentrik, khas seniman. Jadi minder.
Saat menghampiri meja penerima tamu...

"Mau ada pemutaran film ya?"
"Ya, tapi bukan untuk umum, masuknya harus pake undangan..."
"Ups"
----- terdiam...

Saat mati gaya, cari cara biar ga buru-buru cabut. Cabut berarti
melewatkan kesempatan nonton film langka. Film aslinya saat ini ada di
Sinematek Belanda. Akhirnya, ikut-ikutan duduk deket orang-orang yang style-nya kayak seniman. Mudah-mudahan ada yang kenal, ngarep.

Setelah duduk-duduk lama, keliatannya ada beberapa orang media
(wartawan) yang dateng, bisa SKSD nih, sambil coba-coba menduplikasi
trik Mario Teguh kalo mau nonton tanpa modal.

Pengunjung udah mulai banyak dan satu per satu masuk ke studio, ngintilin dari belakang, sup...sup...sup. Akhirnya...YES YES YES!

Hari ini ada dua pemutaran film tempoe doeloe, yaitu: Pareh dan Matjan Kemajoran. Kedua film itu ditayangkan serentak. Karena penasaran sama film Pareh, akhirnya memilih film yang diproduksi tahun 1934 dengan berlatar belakang alam priangan (Sunda) yang asri.

Film ini bercerita tentang Machmoud, seorang nelayan, yang menjalin kasih dengan Wagini, seorang gadis desa petani. Hubungan cinta antara seorang nelayan dan petani saat itu ditentang secara adat, namun nilai-nilai pertentangan ini tidak diangkat secara mendalam. Peran antagonis diperankan oleh Djahal, pria desa yang sudah menikah dan mempunyai anak, yang menyukai Wagini dan ingin memperistrinya, namun sayang Wagini memilih Machmoud sebagai tambatan hatinya. Djahal pun menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya.

Dalam film ini ditampilkan sosok Loerah Troeno, ayahnya Wagini, yang arif dan bijaksana. Walaupun pada saat itu agama yang dianut oleh masyarakat adalah agama islam, namun unsur animisme dan dinamisme-nya sangat kental. Contohnya saat masyarakat desa datang menemui Loerah Troeno dan membicarakan masalah desa mereka. Mereka khawatir dengan hujan yang turun terus-menerus akan mendatangkan banjir ke desa mereka. Saat itu Loerah Troeno menyampaikan pada warganya agar tetap tenang, karena ia punya keris yang dapat menolak malapetaka. Loerah Troeno kemudian memperlihatkan kesaktian keris tersebut dengan mengeluarkannya dari jendela agar terkena air hujan, lalu beberapa saat kemudian hujan pun berhenti, dan keris itu tidak basah sedikitpun.

Malapetaka muncul seiring dengan hilangnya keris dari tangan Loerah Troeno. Hujan turun tak henti-henti, lambat laun air mulai menggenangi pesawahan mereka dan akhirnya pertanian mereka pun gagal panen. Desa mulai dilanda krisis pangan. Warga desa mulai frustrasi dan minta pertanggung jawaban Loerah Troeno. Karena keris itu sudah tidak ada lagi di tangannya, maka Loerah Troeno pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Namun, dengan kebesaran jiwanya dia menyatakan kepada warga desa bahwa ia akan menjual harta bendanya untuk dibelikan beras dan diberikan kepada warganya. Machmoud yang mengetahui keadaan desa Loerah Troeno sedang dalam masa sulit, memutuskan untuk pergi ke laut mencari ikan untuk membantu krisis pangan yang dialami oleh warga desa petani. Wagini sangat sedih dengan kepergiannya dan hanya bisa berhadap dan menunggu kedatangan pria pujaannya.Berikutnya diceritakan bahwa Machmoud mendapatkan bencana di laut, perahunya hancur, dan ia tidak diketahui nasibnya.

Sepeninggal Machmoud, Djahal dapat dengan leluasa melakukan aksinya untuk mendapatkan Wagini. Ia memberikan Wagini kain yang bagus-bagus. Sampai, istrinya mengetahui tentang pemberian itu tapi Djahal malah marah dan mengusir istri dan anaknya dari rumah.

"Saya sudah bosan dengan Koe," katanya.

Ketika Djahal mengeluarkan baju-baju istrinya dari dalam lemari, tanpa sengaja keris Loerah Troeno yang dikabarkan hilang itu, terjatuh. Akhirnya ketauan deh kalo yang nyuri itu si Djahal.

Perlahan-lahan harta benda Loerah Troeno pun habis, ia menjadi miskin dan harus meninggalkan rumahnya, pindah ke rumah yang lebih sederhana. Ia kemudian sakit keras, sampai akhirnya meninggal.

Diceritakan Machmoud diselamatkan oleh sekelompok nelayan. Setelah pulih, Machmoud kemudian pulang ke desanya. Saat itu adalah hari meninggalnya Loerah Troeno. Ia mengetahui kabar ini dari istrinya Djahal yang ia temui di jalan. Kemudian istrinya Djahal itu memberitahukan bahwa yang mencuri keris adalah Djahal.

Sampai disini film ini hampir mendekati akhirnya. Machmoud kemudian mengambil keris dari rumah Djahal, namun tuan rumah tidak ada di tempat. Kemudian kabar pun beredar bahwa yang mencuri keris adalah Djahal. Singkat cerita Si Jahat kalah dan kebaikan selalu menang.

Setelah keris itu direbut kembali dari tangan Djahal. Desa pun aman tentram, gemah, ripah, loh jinawi....Einde.

Oh...jadi film ini ceritanya tentang keris toh? Silakan Anda terjemahkan sendiri, yang jelas rugi kalo gak nonton langsung film klasik ini yang merupakan film Indonesia pertama yang banyak dipuji oleh orang-orang luar karena esensi muatan lokalnya yang begitu unik.

Sssst...film Matjan Kemajoran juga seru loh. Ide ceritanya terinspirasi dengan film Barat, duel ala koboi, juga film "Samurai Jepang". Akan tetapi, jagoan yang tampil dalam "Macan Kemayoran" adalah jagoan keluaran pesantren (diperankan oleh WD Mochtar). Sejumlah pemain ternama dan berkarakter ikut mendukung film tersebut, seperti Ratno Timur, Rita Za-hara, Rahayu Effendy, A. Hamid Arief, Menzano, Iskandar Zulkarnaen (Dicky Zulkarnaen), Rachmat Kartolo, Usbanda, dan lainnya. Filmnya sendiri laku keras di pasaran.

Kapan ya nonton lagi?

readbud - get paid to read and rate articles

Langganan Info via Email