Pages

Showing posts with label Perpustakaan dan Ilmu Informasi. Show all posts
Showing posts with label Perpustakaan dan Ilmu Informasi. Show all posts

Standar Kompetensi Profesi

Standar Kompetensi Profesi

Belum lama ini saya mengikuti lokakarya yang dilaksanakan oleh Bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

Disini berkumpul para dokter spesialis senior dan yunior untuk membahas kurikulum yang akan diberikan pada Program Pendidikan Sarjana Kedokteran (PPSK) dan Program Pendidikan Profesi Dokter (P3D) sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) yang diberikan oleh konsil kedokteran.

Mereka begitu solid dalam memperhatikan kualitas atau kompetensi seorang sarjana kedokteran sampai menjadi dokter umum.

Wajar bila profesi dokter dipandang dan dihargai tinggi di masyarakat karena elemen-elemen yang 'membentuknya'-pun kuat dan solid.

Mungkinkah profesi pustakawan maju?

--
bagusramdan@yahoo.com
http://bagusramdan.blogspot.com

--
Sent using Sony Ericsson mobile phone

Model of Hospital Library

Anda pernah ke rumah sakit? Ya, pastinya kita semua pernah, apakah itu kita yang sedang sakit/dirawat, atau kita sedang menengok orang lain yang sedang dirawat. Kadang, atau mungkin sering kali, pengunjung besuk ke rumah sakit datang beserta sanak keluarganya (sekalian jalan-jalan mungkin), walaupun anak usia dibawah 12 tahun tidak boleh masuk ruang perawatan. Jadi, anak-anak menunggu di ruang tunggu atau area lain dari rumah sakit.

Nah, ada info menarik nih. Sebuah rumah sakit di Aurora, menawarkan program penyembuhan dan aktifitas khusus lainnya ntuk para pasien dan keluarganya. Area khusus keluarga dilengkapi dengan seperangkat permainan Nintendo Wii dan di setiap ruang perawatan pasien, termasuk di ICU-nya, dipasang Xbox 360. Pasien, keluarga, dan orang tua pasien bisa meminjam video game atau DVD atau buku dari perpustakaan yang berada dekat dengan ruangan sukarelawan.

Amber Beserra adalah seorang siswa SMA yang menjadi sukarelawan di perpustakaan. Ia merupakan mantan pasien disana dan sekarang memiliki teman dekat yang mengidap kanker dan dirawat di rumah sakit tersebut.

Sambil bekerja sebagai pustakawan sukarela, Amber mencoba untuk mengelola games dan DVD. Ia mengirimkan berita ke 9NEWS mengenai keiginannya untuk menambahkan video game section, terutama Xbox. Kemudian ia mengontak orang-orang yang menjual game-game bekas di internet dan meminta mereka untuk menyumbangkan game-game bekas tersebut untuk rumah sakit. Beberapa penjual setuju dengan idenya, tapi Amber menginginkan pesan ini dapat disampaikan ke kalangan yang lebih luas.

Kathleen McBride adalah direktur dari para sukarelawan di rumah sakit itu. Ia mengatakan bahwa perpustakaan dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasien dan keluarganya untuk semua kalangan usia, dari sejak lahir sampai dewasa. Tentunya dengan adanya koleksi ini (walaupun bekas) sangat diterima dengan senang hati oleh para pengguna, terutama, game olahraga (yang tidak memunculkan adegan kekerasan) sangatlah disukai seperti halnya serial "Twilight". Tapi, kalo untuk buku-buku, harus selalu yang baru.

Anda mau menyumbangkan sesuatu untuk perpustakaan rumah sakit?

Sumber : http://www.9news.com/news/article.aspx?storyid=143855&catid=188

Librarian Salaries

Pustakawan - walaupun kita tidak menginginkan menjadi pustakawan - sesungguhnya memiliki standar kesejahteraan hidup yang layak. Tahun 2006, rata-rata gaji pustakawan sedikit diatas $49,000/tahun yang berarti lebih tinggi sedikit dengan pendapatan rata-rata profesi lainnya.

Umumnya pustakawan mempunyai pendapatan antara $40,000/tahun sampai $60,000/tahun, walaupun hal itu bergantung pada tingkat pendidikan atau untuk posisi administratif, mereka mendapatkan pendapatan sebesar $75,000/tahun. Pendapatan terendah seorang pustakawan adalah $30,000/tahun atau lebih - lumayan untuk pendapatan awal.

Namun, bidang ilmu perpustakaan secara umum berkembang lebih lambat dibandingkan pertumbuhan normal. Pekerjaan baru di bidang perpustakaan jarang terjadi, sebagian karena pengaruh dari perkembangan teknologi.

Jaman sekarang, pengguna perpustakaan dapat menemukan semua informasi yang mereka inginkan pada topik apapun dengan menggunakan internet dari rumah sendiri. Semakin banyaknya data yang bertambah banyak tersedia di internet, orang jadi lebih jarang mengunjungi perpustakaan untuk tujuan-tujuan penelitian sehingga membatasi kebutuhan akan posisi pustakawan referensi yang baru.

Namun, ketika pekerjaan baru untuk bidang perpustakaan tidak dibuka, ternyata masih ada beberapa kesempatan kerja disana. Banyak pustakawan yang pensiun tiap tahun, sehingga posisinya bisa diisi oleh yang baru. Faktanya, survey yang baru-baru ini dilakukan menunjukkan bahwa hampir 2/3 dari seluruh pustakawan berusia diatas 45 tahun, jadi dapat diasumsikan bahwa pustakawan ini akan pensiun dalam jangka waktu 10 sampai 20 tahun mendatang. Selain itu, perpustakaan yang tidak membutuhkan lulusan S2 lebih sering membuka lowongan - termasuk untuk pekerjaan paruh waktu atau asisten pustakawan.

Lowongan posisi pustakawan dalam sepuluh tahun mendatang dipredisksi akan menjadi yang paling lambat pertumbuhannya seiring dengan kemampuan pengguna dalam belajar dan melakukan risetnya sendiri. Namun, posisi staf pembantu, khususnya posisi dalam membantu menggunakan teknologi akan berkembang lebih cepat. Umumnya perpustakaan memiliki minimal satu orang pada posisi ini. Sementara lowongan kerja pustakawan diluar standar perpustakaan diperkirakan akan berkembang cukup cepat dalam sepuluh tahun mendatang. Posisi ini bekerja untuk perpustakaan nonprofit, swasta, atau konsultan seperti information broker dan peneliti. Pustakawan biasanya disewa untuk mengelola database komputer, website, dan pusat informasi lainnya. Karena pustakawan biasanya sangat terorganisir dan dapat mengevaluasi informasi secara cepat, perusahaan biasanya menyewa mereka untuk mengevaluasi dan mengelola sejumlah data (yang banyak). Pustakawan yang tertarik untuk posisi seperti ini bisa mendapatkannya pada disiplin ilmu tertentu - seperti bioteknologi atau mesin/teknik.

Secara umum, walaupun tidak ada posisi kosong di perpustakaan umum untuk jumlah lowongan yang banyak, akan ada kesempatan terbuka seiring dengan pensiunnya pustakawan-pustakawan senior. Selain itu, bagi mereka yang mencari pekerjaan diluar lingkungan perpustakaan tradisional, ada banyak posisi baru yang dibuka oleh perusahaan yang mencari pustakawan untuk mengelola informasi dan database-nya.

Sumber : http://www.careertoolkits.com/librarian/librarian-salaries.html

Librarian Career

Profesi pustakawan berubah secara dramatis seiring dengan perubahan teknologi - tidak ada lagi "wanita tua" yang membenamkan dirinya diantara tumpukan buku-buku tua, yang selalu mengucapkan "shshshshshshhhhhhh..." pada para pengunjung. 

Saat ini, pustakawan adalah penguasa teknologi, bekerja lebih banyak menggunakan komputer dan database dibandingkan dengan menggunakan kartu katalog atau kertas-kertas. Faktanya, masih ada perpustakaan yang menggunakan katalog berupa kartu - padahal semua itu bisa dilakukan dengan komputer.

Meskipun semua teknologi baru harus dipelajari oleh pustakawan, beberapa keterampilan dan pengetahuan dasar masih tetap diperlukan. Contohnya, pustakawan masih perlu mengetahui tentang Dewey Decimal System, mempunyai pengetahuan mengenai macam-macam sumber informasi, dan lebih spesifik lagi mengetahui sumber informasi yang mana (dari sekian banyak) yang lebih bermanfaat untuk penggunanya. Perkembangan teknologi pun membawa pengaruh pada pelayanan perpustakaan, yang dibagi kedalam tiga area: area pelayanan teknis, area pelayanan administratif, dan area pelayanan pengguna.
  • Pelayanan teknis lebih banyak melalukan tugasnya di balik layar. Mereka menangani akuisisi, katalog, dan mempersiapkan koleksi baru untuk dipinjamkan. Secara umum, pelayanan teknis tidak secara langsung berhubungan dengan pengguna, hal ini sangat cocok bagi mereka yang menyenangi pekerjaan-pekerjaan kantoran.
  • Pelayanan administratif adalah para menejer di perpustakaan. Mereka men-supervisi pustakawan dan karyawan lainnya, berkecimpung dalam penggalangan dana dan hubungan ke publik, menyusun anggaran, dan memastikan semua aspek di perpustakaan berjalan sebagaimana mestinya. 
  • Pelayanan pengguna adalah (seperti) pustakawan pada umumnya (dalam arti tradisional). Mereka membantu pengguna menemukan buku, melayani peminjaman dan pengembalian, dan - jaman sekarang - membantu pengunjung menggunakan internet dan program komputer lainnya untuk menemukan informasi.
Di perpustakaan besar, tugas-tugas tersebut dibagi menjadi kategori yang lebih tegas, dengan pustakawan yang secara khusus berada dalam area akuisisi, koleksi khusus, referensi, dan area lainnya yang spesifik. Namun, di perpustakaan kecil, tugas-tugas diatas sering tumpang tindih sedikit. Selain dari tugas-tugas tersebut, pustakawan di daerah-daerah harus selalu waspada dengan munculnya buku-buku baru, memberikan saran untuk buku-buku baru yang akan dibeli, dan berhubungan langsung dengan distributor untuk membelinya. 



Seringkali, pustakawan menyalurkan ide kreatifnya dalam mendesain mading, menyelenggarakan acara-acara untuk perpustakaan, atau membuka program khusus membaca untuk anak-anak. Mereka juga dapat merancang publikasi untuk didistribusikan kepada pengguna perpustakaannya. 

Pustakawan lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam ruangan. Banyak pustakawan yang bekerja di depan komputer untuk jangka waktu yang lama, terutama yang berada pada area pelayanan teknis. Pustakawan menghabiskan waktu lebih banyak di meja ketika mereka tidak sedang melayani pengguna. Pekerjaannya tidak selalu menimbulkan stres, walaupun pelayanan pustakawan berhubungan dengan kepuasan pengguna, sehingga keterampilan dalam melayani pengguna dan kesabaran tingkat tinggi merupakan rekomendasi yang harus dimiliki oleh pustakawan :-)

Sumber : http://www.careertoolkits.com/librarian/librarian-career.html

Top 6 Characters For Becoming a Librarian

Berikut adalah 6 karakter yang harus dimiliki oleh seorang pustakawan:
  1. Adanya keinginan untuk menolong, mengajarkan, dan melayani orang lain.
  2. Memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpendapat.
  3. Menghargai hak-hak privacy dan bebas membaca subjek apapun yang dipilihnya.
  4. Mempunyai ketertarikan dalam information research
  5. Mempunyai ketertarikan terhadap berbagai macam dan bentuk sumber informasi, bahan dan subjek.
  6. Mempunyai kemampuan komputer yang mumpuni dan dapat beradaptasi dengan teknologi baru.
Pustakawan memiliki tiga komponen: pelayanan pengguna, pelayanan teknis, dan pelayanan administrasi. Pustakawan bisa mengkhususkan diri dalam salah satu area diatas, atau jika mereka berada di perpustakaan kecil, mereka bisa bertanggung jawab terhadap semua area tersebut. 
Dalam pelayanan pengguna, pustakawan membantu pengunjung dalam mencari koleksi yang mereka cari, yang bisa menjadi sebagai materi untuk penelitian, materi untuk belajar, atau buku dan media-media fiksi. Pustakawan juga mengajarkan pengunjung bagaimana menemukan informasi yang dicari melalui media internet atau mengajarkan bagaimana menggunakan kartu katalog. 

Sumber : http://www.ayinmusic.com/ayin-music/398

When the community grows, the first thing to grow is the library

Itu adalah sepenggal kalimat yang disampaikan oleh seorang kurir buku di Knox County Amerika Serikat. A. J. Johnson adalah seorang kurir buku yang telah bekerja di Knox County's Library System yang memiliki 17 cabang di wilayah Knox County, Amerika. Dia bertugas mengantarkan buku dari satu cabang ke cabang lainnya dengan tiga rute yang berbeda. Menurutnya, mengatur ribuan buku yang harus diantarkan ke perpustakaan-perpustakaan cabang melalui perpustakaan pusat seperti memainkan instrumen musik atau bermain video game.

Josh Leek adalah pustakawan yang bekerja di cabang Farragut, Knox County. Ia sudah bekerja disana sejak usia 16 tahun. Dedikasinya lahir dari pemahamannya tentang pentingnya perpustakaan. Lagipula, perpustakaan bukanlah tempat terburuk untuk bekerja, katanya sambil ketawa geli.

Lain lagi cerita dari Stephanie Faulkner. Ia adalah lulusan sarjana dari disiplin ilmu sosial. Kini ia menjadi manajer bagian sirkulasi di perpustakaan Lawson McGhee Library, cabang dari Knox County Library System. Ia telah bekerja selama 15 tahun. Menurutnya, dengan bekerja di perpustakaan, ia bisa menjadi seorang "penolong" tanpa harus menambah masalah baru. Ia mengatakan lebih jauh bahwa bagian yang membuatnya puas (mengesankan) dari pekerjaannya adalah membantu orang yang sedang kesusahan dalam masa krisis ekonomi sekarang ini. Mereka mempunyai program membantu orang-orang susah dengan program pinjaman lunaknya.

Segitunya peran perpustakaan untuk masyarakat di negeri seberang :-) Wajar kalau masyarakatpun memberikan apresiasi yang tinggi untuk perpustakaan.

Source: http://www.knoxnews.com/news/2010/jul/05/library-vignettes/

When Libraries Enrich Lives

Are Libraries Necessary, or a Waste of Tax Money?

Saya gak bisa bagaimana menerjemahkan judul di atas ke dalam Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris memang dikenal "Expressive", singkat dan jelas.

Sebuah kantor berita di Chicago membahas tentang perlu atau tidaknya perpustakaan dipertahankan. Dalam tulisannya, Anna Davlantes (dia juga menjadi pemandu acara TV/berita), menyatakan bahwa uang (pajak) yang selama ini dipakai untuk membiayai perpustakaan, bisa dimanfaatkan untuk membiayai sekolah-sekolah, memperbaiki institusi kepolisian, jaminan pensiun, dll.

Dia lebih lanjut melaporkan, bahwa pemerintah kota Chicago mengeluarkan $120 juta Dollar untuk membiayai perpustakaan, 2.5 % pajak properti diperuntukkan bagi perpustakaan.

Dalam penyelidikannya, mereka menggunakan kamera tersembunyi di salah satu perpustakaan untuk melihat bagaimana aktivitas perpustakaan tersebut. Dalam satu jam, terlihat angka kunjungan sampai 300 orang dan di salah satu perpustakaan terbesar dan tersibuk Harold Washington Library, angka kunjungannya bisa mencapai 5000 orang per hari! Dalam kesimpulannya, kebanyakan pengunjung memanfaatkan fasilitas internet di perpustakaan, sementara untuk rak bukunya sendiri? Tak banyak yang menyentuhnya...

Di sono, masalah perpustakaan aja sampai dibahas se-demikian seriusnya... Jadi, di era internet dan e-book saat ini, kita masih memerlukan perpustakaan?

  1. The Most Beautiful Libraries in the World
  2. Libraries in the Ancient World
  3. Rethinking Information Work: A Career Guide for Librarians and Other Information Professionals
  4. The Librarian's Career Guidebook

Librarian Accreditation

Akreditasi profesi dalam disiplin ilmu perpustakaan dan informasi masih terbatas di negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, dan Australia.

Di Inggris, dua badan profesi seperti Library Association (LA) dan  Institute of Information Scientist (IIS) memiliki desain instrumen akreditasi yang berbeda untuk membantu mendapatkan SDM pustakawan yang qualified dalam proses rekrutmen. Mereka bertanggung jawab pada Komite Pengembangan Profesi.

Wajar saja kalau di negara-negara tersebut pada setiap rekrutmen sumber daya pustakawan, selalu diminta lulusan Library and Information Science yang terakreditasi oleh badan akreditasi yang diakui di negaranya, seperti American Library Association. 

Berikut adalah intisari dari poin-poin kriteria penilaian akreditasi yang dilaksanakan oleh Library Association (1999):
A. Information Generation, Communication & Utilization
The processes and techniques whereby information resources are created, analysed, evalauted, moderated and manipulated in order to meet the requirements of defined user populations. 
B. Information Management and Organisational Context
The application of techniques for planning, implementing, evaluating, analysing and developing library and information products and services within the context of the organisation's culture, aims and objectives. The impact of information systems on the structures and procedures of organisations.
C. Information Systems & Information & Communication Technologies
The availability and functionality of manual and electronic information systems and information and communications technologies insofar as they apply to the principles and practices of information management. The application of techniques to identify, analyse, specify, implement and evaluate appropriate systems.
D. Information Environment & Policy
The dynamics of information flow in society, in (and between) nations, governments and the information and media industries.
E. Management and Transferable Skills
Principles and techniques associated with business and institutional management, together with transferable skills of literacy and numeracy

Sementara itu, ruang lingkup kerja Badan Akreditasi adalah:
  • Menangani semua masalah yang berhubungan dengan aplikasi pengajuan pendidikan - registrasi
  • Menetapkan prosedur akreditasi pendidikan yang telah disetujui oleh konsil
  • Menilai apakah pendidikan tersebut layak atau tidak
  • Melakukan penelitian untuk menentukan apakah pendidikan tersebut sesuai dengan kualifikasi internasional 
  • Memberikan masukan pada Komite Pengembangan Perpustakaan pada masalah-masalah yang berhubungan dengan persetujuan pengajuan pendidikan termasuk masalah peraturan pemerintah
Hmmm, apakah badan-badan/lembaga ini sudah ada di Indonesia? Apakah Dewan Perpustakaan itu ada di Indonesia? Dalam Undang-undang tentang perpustakaan sih ada, tapi dalam penjelasannya, dewan ini dibentuk melalui Peraturan Pemerintah, sementara PP yang mengatur hal ini belum ada, apa kata pustakawan?
--
Sent using a Sony Ericsson mobile phone
--
Regards,
Bagus Ramdan
Indonesia Librarian's Mobile Blogging

Librarian Got a Change

Di bulan Juni 2010 ini Westover Branch Library mendapatkan kunjungan
dari sebuah kru film. Kru film tersebut sedang mengambil beberapa
gambar di pedesaan Westover untuk ditayangkan pada acara Mornings on
PBS Kids yang dipandu oleh Miss Rosa. Salah satu tempat yang diambil
gambarnya adalah perpustakaan dan tentunya pustakawan disana harus
siap-siap pasang aksi di depan kamera dong.
Anne Pettit, salah seorang pustakawan Westover yang menangani kelompok
anak-anak dipilih sebagai figuran.
Apa yang ingin di-film-kan tentang perpustakaan? Menurut Anne, pemandu
acara tersebut, yaitu Miss Rosa, akan mengunjungi beberapa tempat di
lingkungan Westover dan aktivitasnya. Miss Rosa akan mengunjungi Lost
Dog Cafe dan belajar bagaimana caranya membuat pizza, kemudian ia akan
mengunjungi pasar dan tentunya perpustakaan. Miss Rosa ingin
mengetahui apa yang selanjutnya dilakukan setelah sebuah buku
dikembalikan oleh pengguna.
Pustakawan diminta menunjukkan dan menjelaskan bagaimana buku
dikembalikan (checked in) dan disimpan kembali ke rak. Bila nanti ini
telah selesai, waktu tayangnya hanya 60 detik, dengan mengambil 20
adegan.
Program penayangan perpustakaan ini akan disiarkan pada bulan
Septemper dan sambil becanda Anne berharap akan mendapatkan telpon dan
tawaran casting dari sutradara Hollywood:-)
Kita tunggu aja ya tanggal mainnya?
Sent from my mobile for my mobile blogging:-)

Digital Library of European History


Perpustakaan Nasional Ausria akan mengubah 400,000 buku ke dalam format dijital. Untuk itu, perpustakaan tersebut telah melakukan perjanjian kerjasama dengan Google dalam hal pelaksanaan proyek yang bernilai 30 juta Euro tersebut. 

Google akan melakukan proses dijitalisasi yang berharga 60 sampai 120 Dollar Amerika untuk setiap bukunya. Pekerjaan pemindaian itu sendiri akan dimulai pada tahun 2011 dan akan diperkirakan selesai dalam jangka waktu enam tahun. Perpustakaan berharap proyek ini dapat dijadikan alternatif untuk menyelamatkan koleksi aslinya dalam bentuk dijital dan mempunyai back-up jika terjadi bencana. Selain itu, bila ini telah selesai, proyek ini bisa menampikan sejarah 400 tahun sejarah bangsa Eropa.

Google sendiri saat ini telah memindai 12 juta buku dalam bentuk dijital, yang diperoleh dari 40 perpustakaan termasuk dari Stanford dan Harvard University. 

Hmmm sepertinya proyek ini cukup pelik ya, disaat kita ingin mencoba mempermudah sesuatu dengan kemajuan teknologi, di sisi lain kita dihadapkan pada masalah copyright. Apapun kontroversinya, kita ambil yang baik-baiknya aja deh...:-)

Semoga bermanfaat

source: http://www.google.com/hostednews/afp/article/ALeqM5gQRnbbvo2WkH8DzHcf04Fs6y4usg

Reward for Reading in the Library


New Britain Public Library, NBPL, mengadakan program menarik untuk pengunjung yang datang dan membaca di perpustakaan selama musim panas. Mereka membagi tiga kategori, yaitu: anak-anak usia pra sekolah sampai grade 5, remaja grade 6 - 12, dan dewasa.

Anak-anak dimotivasi untuk datang ke perpustakaan dan membaca apapun yang mereka sukai disana selama 15 menit saja setiap harinya. Dengan melakukannya, mereka mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan hadiah mingguan. Remaja diminta untuk mengembalikan laporan mingguan mengenai apa yang mereka baca dan mendapatkan poin bergantung dari banyaknya buku yang mereka baca. Poin yang mereka kumpulkan dapat ditukarkan dengan potongan harga membeli buku, mendapatkan T-shirt dan bisa mendapatkan kesempatan untuk meraih hadiah utama.

Sementara, pengunjung dewasa diminta untuk memberikan ulasan berupa tulisan terhadap buku yang mereka baca. Setelah mereka memberikan ulasan tersebut, mereka berhak mendapatkan buku dari perpustakaan dan memperoleh kesempatan untuk memenangkan hadiah utama yaitu beberapa tanaman untuk berkebun.

Perpustakaan disana menyelenggarakan beberapa program selama musim panas dan dicantumkan di papan pengumuman, seperti: ayo membaca, game days, bahkan sampai menyelenggarakan workshop untuk frisbee!.

Mudah-mudahan ini bisa menginspirasi perpustakaan di Indonesia untuk menumbuhkan minat baca masyarakat dan lebih proaktif "menjemput" pengunjung untuk datang dan memanfaatkan fasilitas yang ada di perpustakaan.

AYO SEMANGAT!

source: http://www.newbritainherald.com/articles/2010/06/15/news/doc4c1834bb4cb1e374572128.txt

The Future of School of Library and Information Science

Dari berita yang saya baca, beberapa perpustakaan di Amerika mengalami penurunan dalam hal anggaran (budget) sebagai imbas dari adanya resesi ekonoi disana. Bila di Indonesia, gak resesi-pun, anggaran untuk perpustakaan memang minim, atau bahkan gak ada:-(

Ini lebih parah lagi, School of Library and Information Science di Louisiana State University akan ditutup karena adanya pemotongan anggaran. Apa jadinya kalau sekolah untuk pustakawan ditutup?

Katanya, buat apa pustakawan? Kan sekarang ada Google, begitu kata konselor Lousiana.

Apa kata pustakawan?

For further information, visit http://slis.lsu.edu/

Digital Library of Mathematical Function

Kini telah lahir Digital Library of Mathematical Function bagi para ilmuan.
Digital Library of Mathematical Function, DLMF adalah hasil proyek lebih dari 10 tahun yang melibatkan editor dan staf dari NIST, National Institute of Standard and Technology. DLMF ini merupakan pelengkap dari buku cetakannya yang diterbitkan pada tahun 1964, dimana sejak diterbitkannya, buku The Handbook of Mathematical Functions merupakan buku wajib dan banyak dijadikan rujukan oleh para ilmuan.

Versi dijitalnya, selain memberikan konten-konten terbaru, juga menyajikan fungsi-fungsi matematika berbasis tiga dimensi dan berwarna, bisa diputar, diperbesar, sementara dalam bentuk klasiknya (buku) fungsi-fungsi ini tidak berwarna dan berpenampilan dua dimensi.

Program ini bisa digunakan oleh siapapun, selain ilmuan, dan gratis. Untuk melihat lebih jauh mengenai aplikasinya, silakan lihat video project-nya berikut ini http://www.nist.gov/itl/math/math_051110.cfm
Kalo mau langsung nyobain programnya, boleh kunjungi link berikut: http://dlmf.nist.gov/

Semoga bermanfaat

Open Access Database for Artificial Intelligence, Manufacturing, Robotics and Operations Research

IN-TECH adalah open access publisher dari Austria. Mereka menerbitkan publikasi untuk bidang ilmu Artificial Intelligence, Manufacturing, Robotics and Operations Research. Koleksi yang didistribusikan berada dibawah lisensi Creative CommonsAttribution License. Semuanya GRATIS, baik untuk dibaca, dicetak, diunduh dan menggunakan isinya atau sebagian selama pengarang asli dan sumbernya dicantumkan dengan benar sebagai penghargaan. Koleksi yang ada dalam database berformat PDF.

Perpustakaan dapat merujuk pada database ini, untuk menyimpan sebagian atau seluruh isi yang diberikan oleh website IN-TECH, dapat pula mencetak/memfotokopi untuk kebutuhan pengguna perpustakaan dengan ketentuan bahwa penulis dan sumber asli harus tetap dicantumkan sebagai penghargaan.

Guru dan instruktur diperbolehkan menggunakan seluruh atau sebagian materi untuk tujuan yang tidak komersil. Kunjungi situsnya disini http://intechweb.org

Perpustakaan Mini di Dunia

Kalo beberapa waktu lalu kita terkagum – kagum dengan Bandara Internasional Schiphol, Amsterdam, Belanda, yang akan menjadi bandara pertama di dunia yang punya perpustakaan permanen pada awal Juli 2010, kini kita akan tersenyum – senyum mendengar kalo ada perpustakaan terkecil di dunia.

Ini ide gila atau unik ya? Kalo menurut saya sih brilian. Di sebuah desa di Somerset, England telah didirikan perpustakaan dengan memanfaatkan Booth telpon umum. Booth ini dibeli dengan harga 1 pound dan dipermak menjadi sebuah perpustakaan mini. Penduduk di desa itu mengantri untuk menggunakan jasa layanan perpustakaan mini ini. Mereka mengantri untuk menukar buku lama mereka dengan buku baru yang ada diperpustakaan mini ini yang ditinggalkan oleh pengunjung lain. Hah? Jadi bingung? Lebih dari 100 buku dan beberapa koleksi CD musik dan video yang tersedia di perpustakaan mini ini. Kita kesana yuk? http://www.offbeatearth.com/quiet-at-the-library/

Library Blog Award

Berikut ini adalah pemenang Library Blog Award:

Kategori General Library Blog:
  1. http://librariesandtransliteracy.wordpress.com/
  2. http://centeredlibrarian.blogspot.com/
  3. http://librarian.net/
Kategori Quirky Library Blog:
  1. http://awfullibrarybooks.wordpress.com/
  2. http://libraryhistorybuff.blogspot.com/
  3. http://greeningyourlibrary.wordpress.com/
  4. http://judgeabook.blogspot.com/
Kategori Public Library Blog:
  1. http://agnosticmaybe.wordpress.com/
  2. http://bfgb.wordpress.com/
  3. http://librarygarden.net/
Kategori School Library Blog:
  1. http://bib20.blogspot.com/
  2. http://futura.edublogs.org/
  3. http://100scopenotes.com/
Sumber : http://salempress.com/Store/blogs/blog_home.htm

Jual Ginjal Demi Pertahankan Perpustakaan yang akan Digusur

Selasa, 18/05/2010 14:12 WIB

Jual Ginjal Demi Pertahankan Perpustakaan yang akan Digusur Muhammad Aminudin - detikSurabaya Perpustakaan milik Eko Cahyono

Malang - Sempat terbesit dalam pikiran Eko Cahyono (30), seorang pemuda lulusan sekolah dasar untuk menjual organ ginjalnya. Ide itu lakukan hanya untuk mempertahankan perpustakaan miliknya yang telah dirintis sejak 1997 lalu. Pasalnya, lahan yang selama ini berdiri bangunan perpustakaan 'Anak Bangsa' itu akan dijual oleh pemiliknya.

"Lahan ini saya gunakan tanpa sewa, hanya dipinjami. Karena ada konflik keluarga, pemilik akan menjualnya. Untuk mendapatkan lahan ini ide untuk menjual ginjal muncul dalam pikiran saya," kata Eko, saat ditemui detiksurabaya. com di perpustakaan 'Anak Bangsa' di Jalan Brawijaya, Desa Sukopuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Selasa (18/5/2010).

Pemuda yang masih membujang ini mengaku, ide menjual ginjal muncul setelah membaca sebuah artikel tentang seseorang di luar negeri menjual ginjalnya. Mengetahui organ tubuhnya dapat dijual, bungsu dari tiga bersaudara ini langsung menawarkan organ ginjalnya tanpa memasang tarif.

"Kalau tanah milik Pak Suyono ini tidak saya beli, 10 ribu anggota perpustakaan saya terancam tidak dapat membaca. Untuk itu dengan menjual ginjal, saya berharap dapat membeli lahan perpustakaan ini dibangun," ujarnya.

(bdh/bdh)

TBM@mall

TBM@mall

Oleh. Agus M. Irkham

KEMENTRIAN Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan merintis taman bacaan masyarakat (TBM) di pusat perbelanjaan atau mal. Frase ''TBM@mall'' dipilih menjadi nama pemerekan (branding) pusat pembelajaran yang ditujukan untuk para pengunjung mal itu.

Di kota-kota besar, mal memang telah menjadi tempat yang paling sering dikunjungi masyarakat. Mal tidak hanya didatangi untuk berbelanja dan mengukur batas-batas kelas sosial, tapi juga aktivitas lain. Mulai tempat merayakan ulang tahun, pesta pernikahan, tempat ibu-ibu arisan, tempat janji ketemuan dengan kolega, rapat, diskusi, hingga tempat untuk sekadar nongkrong. Singkatnya, mal telah menjadi pusat kebudayaan. Mal menjadi salah satu penanda (ikon) utama budaya pop yang ''bermagnet' ' kuat, melingkupi seluruh rentangan umur biologis, perbedaan gender, dan nirkelas ekonomi.

Berdasar beberan perangkaan Direktur Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Dir Dikmas Ditjen PNFI) Kemendiknas Ella Yulaelawati, 50 persen pengunjung mal adalah remaja, 25 persen berumur di bawah remaja, dan sisanya di atas remaja.

Ella menyebutkan, TBM@mall akan dilengkapi dengan pojok anak (kid corner) sebagai balai belajar bersama. Tidak hanya itu, TBM@mall juga bisa dijadikan sarana unjuk karya. Misalnya, galeri anak-anak yang memajang hasil karya mereka. Pada tahap awal, Kemendiknas akan merintis TBM@mall di enam titik pusat perbelanjaan. Yaitu di Jakarta, Serang, Makassar, Bandung, Surabaya, dan Semarang.

Saya kira, prakarsa Kemendiknas itu sejalan dengan gagasan yang sebelumnya telah mekar di teman-teman komunitas literasi. Terutama, yang terhimpun dalam Gerakan Indonesia Membaca. Sebuah gerakan keberaksaraan yang difasilitasi dan dipromosikan oleh Forum Indonesia Membaca (FIM).

Kalau tidak salah, sejak 2002, FIM telah menyosialisasikan program pojok buku (book corner) di tempat layanan publik. Tidak hanya di pusat perbelanjaan, program itu juga diadakan di bengkel, ruang tunggu rumah sakit, apotek, bandara, lobi hotel, dan stasiun. Hanya, karena lain hal, ide book corner itu tak kunjung membiak.

Kini ide tersebut muncul kembali dan yang mengambil prakarsa adalah pemilik kuasa birokrasi dan anggaran, yaitu pemerintah. Tentu harapan kita, ide itu betul-betul terlaksana dan berkelanjutan. Maka, tak berlebihan jika ide tersebut perlu didukung para pegiat budaya baca.

Mengapa? Saya mencatat, ada dua alasan mengapa TBM@mall ini penting dilihat dari perspektif masa depan gerakan membaca di Indonesia. Pertama, di satu segi ada linearitas antara mal sebagai pusat kebudayaan dan tujuan menjadikan aktivitas membaca buku -produk budaya- sebagai bagian tidak terpisahkan dari pemanfaatan jelujur waktu hidup keseharian seseorang. Publik luas lebih mengenalnya dengan istilah budaya baca.

Di segi lain, pemasaran budaya baca dituntut untuk terus mencari pola dan strategi baru. Terutama menyangkut pengemasan (context) aktivitas promosi dan helatan keaksaraan. Dengan hadirnya TBM di pusat perbelanjaan, secara tidak langsung kesan yang diharapkan muncul dari para pengunjung adalah "Oh ternyata buku itu (aktivitas membaca) sama gaulnya dengan mal".

Sama-sama dapat dijadikan sebagai bagian dari gaya hidup (life style). Pada titik ini, dengan kata lain TBM@mall adalah bentuk penindihan (baca: memanfaatkan) ikon budaya pop untuk memasarkan aktivitas membaca. Jadi, keduanya tidak harus ditempatkan dalam situasi saling menegasi. Sebaliknya bisa bersinergi.

Dalih kedua, TBM@mall penting lantaran berkaitan dengan upaya mengefektifkan gerakan keaksaraan fungsional. Secara sederhana, keaksaraan fungsional dapat diartikan sebagai kelincahan seseorang untuk mendaras bahan bacaan yang bertalian erat dengan profesi yang ditekuni. Jika bukan profesi, paling kurang pekerjaan teknis yang akan, sedang, dan telah dijalani.

Sejauh ini, pengunjung mal memang nirkelas ekonomi. Tapi, tak bisa dimungkiri bahwa persentase terbesar adalah mereka yang masuk dalam kelompok ekonomi mapan. Dalam beberapa riset literasi, kelompok mapan ini -biasanya identik dengan tingkat pendidikannya yang tinggi- golongan masyarakat yang paling berkewajiban dan paling berpotensi menjadi pendaras buku. Meskipun, gagrak buku yang dibaca biasanya sangat spesifik, yaitu buku-buku yang memiliki faedah praktis dan instan (keaksaraan fungsional). Bukan buku-buku ''berat'' yang berisi wacana pemikiran.

Pada segi itu, TBM@mall adalah bentuk fasilitasi untuk mendorong tumbuhnya kesadaran keaksaraan fungsional pada masyarakat kelas mapan. Apa perlunya sudah mapan, tapi kok tetap harus difasilitasi dan didorong-dorong? Mungkin, pertanyaan gugatan itu yang bakal muncul.

Fasilitasi dan dorongan tersebut bertujuan agar kebiasaan membaca buku pada kelas menengah (secara ekonomi) yang semula hanya potensial menjadi aktual. Sekurang-kurangnya, taman bacaan di mal akan memberikan wacana sanding, untuk tidak menyebut tanding atas beragam gerai yang identik dengan konsumerisme.

Capaian terjauh TBM@mall adalah naiknya kualitas keaksaraan kelas menengah, yang semula hanya memiliki kecakapan keaksaraan fungsional meningkat menjadi keaksaraan budaya. Sebab, seperti yang sudah-sudah, aktor perubahan sosial -yang mengarah pada perbaikan dan memerdesa- yang utama adalah mereka, kelas menengah (dari segi pendidikan dan ekonomi) yang memiliki tingkat keaksaraan budaya tinggi. (*)

Agus M. Irkham, instruktur Literasi Forum Indonesia Membaca, Kabid Penelitian dan Pengembangan Pengurus Pusat Forum Taman Bacaan Masyarakat.
Tulisan ini pernah tersurat di Jawa Pos, Minggu 11 April 2010.

readbud - get paid to read and rate articles

Asian Journals Online

Asian Journals Online (AsiaJOL) http://asiajol.info/index.php/index

Asian Journals Online (AsiaJOL) is a harvester which collects information from the Journals Online (JOL) databases of journals published in Bangladesh, Nepal, The Philippines, Vietnam, Sri Lanka and Indonesia. The journals online databases cover the full range of academic disciplines. The objective of AsiaJOL is to give greater
visibility to the participating journals, and to the research they convey.

-Bangladesh Journals Online (BanglaJOL)
-Nepal Journals Online (NepJOL)
-Philippine Journals Online (PhilJOL)
-Vietnam Journals Online (VJOL)
-Sri Lanka Journals Online (SLJOL)
-Indonesia Journals Online (IJOnline)

The site provides a means of searching any or all of the JOL databases by a number of indexing items including Title, Author and Keywords. The search results allow you to see which database the article is from, the metadata for the article and there is a link to the Abstract page of the article on the relevant country JOL which in turn will link to the full text, if it is available.

Journals are selected for inclusion on the country JOLs using the following criteria:
1. They are scholarly in content, and contain original research (in addition to other content)
2. Their content is peer reviewed and quality controlled
3. They are able to provide all content for inclusion on the JOL (tables of contents, abstracts and PDFs of full text) in electronic format
4. They are published within the specific country. Management of publishing strategy, business development and production operation are all run from the country.

The JOLs provide information on each participating journal, including aims and scope, contact details and general information. They also provide Tables of contents and abstracts (where available) for all articles published within the journals. Many full text articles are also available.

All the material on the JOLs is free to view, search and browse, however copyright of all content is retained by the journals or authors – each journal will need to give permission for any use or re-use of the content that falls outside Fair Use.

The JOLs are not publishers: they provide a service to the journals by hosting their content online, and actively promoting the websites to encourage discovery of the titles and their articles. Some of the individual journals also use the website to publish their journals and they welcome submissions from registered users.

readbud - get paid to read and rate articles