Pages

Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Belajar bukan untuk kelulusan

Ini adalah cuplikan pidato pada upacara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Disampaikan oleh Erica Goldson, wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu:

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada. Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik.

Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat. Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan.......”

KISAH YANG MENGGUGAH

Saya adalah seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines, Iowa. Saya mendapat nafkah dengan mengajar piano selama lebih dari 30 tahun. Selama itu, saya menyadari bahwa setiap anak mempunyai kemampuan musik yang berbeda.

Tapi saya merasa bahwa saya belum dapat menolong mereka meningkatkan kemampuannya dengan maksimal, walaupun saya telah mengajar beberapa murid berbakat. Walaupun begitu, saya ingin bercerita tentang seorang murid yang "tertantang secara musik" ; contohnya adalah Robby. 

Robby berumur 11 tahun, ketika ibunya memasukkan dia mengikuti les untuk pertama kalinya. Saya lebih senang kalau seorang murid (khususnya laki-laki) mulai mengikuti les musik ketika usianya lebih muda ; dan saya jelaskan hal itu kepada Robby. Tapi Robby berkata, bahwa ibunya selalu ingin mendengar dia bisa bermain piano. Dengan pertimbangan itu, maka saya jadikan dia murid saya. 

Hari berikutnya, Robby memulai les pianonya ; dan dari awal saya pikir bahwa dia tidak ada harapan. Robby mencoba, tapi dia tidak mempunyai kepekaan nada maupun irama memainkan piano. Walaupun demikian, dia terus mempelajari benar-benar tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang saya wajibkan untuk dipelajari semua murid. 

Selama beberapa bulan, dia mencoba terus dan saya mendengarkannya dengan rasa khawatir, namun terus mencoba menyemangatinya. Pada setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata ; "Ibu saya akan mendengar saya bermain piano, pada suatu hari nanti." Tapi rasanya harapannya itu akan sia-sia saja ; karena dia memang tidak memiliki bakat sejak lahir. 

Saya hanya mengetahui ibunya dari jauh ; ketika dia menurunkan Robby atau menjemput Robby. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan, tapi tidak pernah mengantarnya turun. 

Pada suatu hari, Robby tidak datang lagi ke les kami. Awalnya saya berpikir untuk menghubunginya ; tapi karena mengingat ketidak-mampuannya, akhirnya saya memutuskan bahwa lebih baik dia les kepada orang lain saja. Saya juga senang dia tidak datang lagi ; karena ketidak-berhasilan dia akan menjadi iklan yang buruk untuk pengajaran saya ! 

Beberapa minggu sesudahnya, saya mengirimkan brosur ke setiap murid mengenai pertunjukan yang akan dilaksanakan. Yang mengagetkan saya, Robby (yang juga menerima brosur) menanyakan saya ; apakah dia bisa ikut pertunjukan itu. Saya katakan kepadanya bahwa pertunjukan itu adalah untuk murid yang ada sekarang, dan karena dia telah keluar, maka tentunya dia tidak bisa ikut. 

Dia katakan bahwa ibunya sakit, sehingga tidak bisa mengantarkannya ketempat les ; tapi katanya, dia tetap terus berlatih. "Bu Hondrof, tolonglah bu ... , saya mau main !", pintanya dengan memaksa. Saya tidak tahu apa yang membuat saya pada akhirnya membolehkan dia main di pertunjukan itu. Mungkin karena kegigihannya, atau mungkin ada sesuatu yang berkata dalam hati saya, bahwa dia akan baik-baik saja…….. 

Malam pertunjukan pun tiba ; Aula itu dipenuhi dengan para orang tua, teman, dan relasi. Saya menaruh Robby pada urutan terakhir, sebelum saya maju ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir. Saya mengaturnya seperti itu, sehingga jika ada kesalahan yang mungkin Robby buat, hal itu akan terjadi pada akhir acara, dan saya bisa menutupinya dengan permainan dari saya. 

Pertunjukan itu berlangsung dengan lancar dan tanpa ada masalah. Murid-murid telah berlatih dengan baik, dan hasilnya pun bagus. Lalu Robby naik ke panggung ; bajunya terlihat kusut dan juga dengan rambut yang acak-acakan. "Kenapa dia tidak berpakaian seperti murid-murid lainnya ?", pikir saya ; "Kenapa ibunya tidak menyisirkan rambutnya, setidaknya untuk malam ini ?" 

Robby menarik kursi piano dan mulai. Saya terkejut ketika dia menyatakan bahwa dia telah memilih Mozart's Concerto 21 in C Major. Saya begitu sangat terkesima mendengarnya. Jarinya ringan diatas tuts-tuts nada, bahkan menari dengan gesitnya ; dia berpindah dari pianissimo ke fortissimo..... , dari allegro ke virtuoso.……… Akord tergantungnya yang diinginkan Mozart benar-benar sangat mengagumkan ! Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur dia dengan sebagus itu ! 

Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar dan semua hadirin terpaku disana dengan tepuk tangan yang sangat meriah……… 

Dengan air mata berlinang, saya naik keatas panggung dan memeluk Robby dengan sukacita. "Saya belum pernah mendengar engkau bermain seperti itu, Robby ; bagaimana engkau dapat melakukannya ?" Melalui pengeras suara Robby menjawab ; "Bu Hondorf ... , masih ingatkah saya pernah berkata bahwa ibu saya sakit ? Ya….. , sebenarnya dia sakit kanker dan dia telah berlalu pagi ini……… ; dan sebenarnya ... , dia tuli sejak lahir, jadi hari inilah dia untuk pertama kalinya dapat mendengar saya bermain….. , saya ingin bermain secara khusus untuknya." 

Tidak ada satu pun mata yang kering malam itu……… Ketika orang-orang dari Layanan Sosial membawa Robby dari panggung ke ruang pemeliharaan ; saya menyadari, betapa hidup saya jauh lebih berarti karena telah mengambil Robby sebagai murid saya. 

Tapi…. , tidak…… ! Saya tidak pernah menjadi penolongnya ; karena malam itu, saya menjadi orang yang telah ditolong Robby. Dialah gurunya dan sayalah muridnya, karena dialah yang telah mengajarkan saya ; apa arti ketekunan, berkorban dan mengasihi, dan percaya pada kemampuan sendiri. 

“Karena KASIH ; maka semuanya menjadi mungkin”. 

ANAK KEBANGGAAN AYAH

Seorang ayah bernama Bakri berumur penghunjung 40-an diundang sekolah anaknya untuk hadir pada 'Hari Ayah'. Sungguh dia amat enggan perkara seperti ini. Merasa sudah punya empat orang anak, bahkan yang tertua sudah masuk kuliah. Ia merasa sudah gak umurnya lagi bersenda gurau dengan anak pada Hari Ayah di sekolah. Namun karena istri dan anaknya yang nomer empat memintanya dengan sangat, ia pun datang ke sekolah anaknya dengan hati berat.

Seperti yang ia duga, acara di kelas hari itu menampilkan kebolehan masing-masing anak dihadapan para ayah mereka. Terlihat di sana banyak para ayah yang berusia sekitar 30-an. Kesemua ayah itu antusias melihat buah hati mereka. Bakri hanya tersenyum, berkatalah ia dalam hati; "Dulu aku juga seperti mereka saat punya anak pertama. Tapi kini sudah gak zaman lagi baginya acara anak-anak seperti ini."Satu per satu murid dipanggil untuk tampil ke depan dan menunjukkan kebolehannya Selama 5 menit. Usai penampilan maka ayah mereka dipanggil ke depan untuk menerima hadiah yang telah disiapkan oleh sang anak untuk ayah mereka. Ada yang menampilkan kebolehan bernyanyi. Ada yang menulis dan baca puisi. Berpidato dengan bahasa asing. Atraksi permainan dan banyak lagi.

Kini giliran Umar, anak Bakri nomer empat yang berusia 10 tahun dipanggil namanya untuk tampil ke depan. Bakri mengira bahwa Umar pasti akan menampilkan hal serupa dengan kawan-kawannya. Diujung penampilan, Bakri harus berpura-pura sumringah dan memberi pelukan hangat kepada Umar buah hatinya. Agar semua orang di kelas itu tahu bahwa ia adalah ayah yang layak dibanggakan. Ehemmm, itulah pikirnya!"

Kamu ingin menampilkan apa untuk ayahmu, Umar?" tanya ibu guru. "Aku akan tampil dengan Ustadz Amir di depan" jawab Umar bersemangat. Ibu Guru pun mempersilakan ustadz Amir untuk ke depan kelas dan tak lupa ibu guru menjelaskan kepada para ayah bahwa ustadz Amir adalah guru ekstra kurikuler yang mengajarkan baca Al Quran di sekolah."Nah Umar, kini giliranmu untuk memulai penampilan..." ujar ibu guru.

Umar mengucap salam. sedikit kata pembuka ia ucapkan. Ia berkata bahwa ia akan membaca surat Al Kahfi yang berjumlah 110 ayat. Sadar dengan waktu yang terbatas ia meminta bantuan Ustadz Amir untuk memegang mushaf Al Quran dan menyebutkan ayat mana saja untuk ia baca.Para ayah yang hadir mulai berdecak kagum. Mereka mengerti bahwa Umar bukan hanya akan membaca Al Quran, namun dia malah sudah menghafalnya!

"Baik, sekarang coba kamu baca ta'awudz dan basmalah dan mulai dari ayat pertama....!" pinta ustadz Amir.Dengan memejamkan mata, Umar mulai membaca. Tak disangka...., suara yang keluar dari mulut Umar terdengar begitu merdu. Rupanya Umar membaca Al Quran mengikuti lantunan Qari cilik bernama Muhammad Taha Al Junaid yang terkenal itu. Ia membaca dengan hati yang tenang lalu membawa kedamaian pada setiap telinga yang mendengarnya.Ayat 1-5 telah dibaca Umar. Ustadz Amir mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti bacaan Umar yang merdu tanpa sekalipun beliau putus. 

Lalu Ustadz Amir meminta Umar untuk membaca dari ayat 60. Umar pun membaca dengan suara yang menenangkan jiwa.Semua mata dari para ayah yang hadir kita mulai berkaca-kaca. Seolah mereka penuh harap andai anak2 mereka bisa seperti Umar. Demikian pula dengan Bakri, ayah Umar. Ia yang tadinya tidak sepenuh hati datang ke sekolah. Kini malah ia begitu antusias! Lalu ustadz Amir meminta Umar untuk pindah lagi ke ayat 107 -110 sebagai penutup penampilannya. Maka Umar pun membacanya tanpa satu pun kesalahan.

Begitu Umar menyudahi bacaannya, belum juga dipersilakan maka bangkitlah Bakri dari duduknya dan langsung berjalan ke depan dan memeluk Umar. Terlihat rasa bangga yang terpancar dari wajah Bakri usai melihat penampilan buah hatinya. Para hadirin pun menyaksikan bahwa Bakri beberapa kali menyeka air mata yang berderai di pipinya.Seisi ruangan terpukau dengan lantunan Al Quran yang dibacakan dengan suara merdu Umar. Menyudahi suasana yang haru itu, ibu guru membuka tanya kepada Umar, "Mengapa engkau ingin membaca Al Quran untuk ayahmu sedangkan semua temanmu tak ada yang terpikir untuk melakukannya, Umar?"Rupanya Umar pun turut haru usai dipeluk sedemikian hangat oleh sang ayah. 

Dengan mata berkaca-kaca Umar berkata, "Ustadz Amir pernah ajarkan aku untuk rajin belajar Al Quran. Beliau sampaikan bahwa orang yang hafal Al Quran membuat kedua orang tuanya mulia di akhirat. Kedua orang tua akan mendapat mahkota dari cahaya dimana cahayanya lebih indah dari sinar mentari dunia... Aku ingin, ayah & ibuku mendapat kemuliaan seperti itu dari Allah Swt karena itu aku belajar menghafal Al Quran bersama ustadz Amir." 
"Subhanallah...." terdengar suara para ayah berkumandang di kelas itu. Semuanya berkeinginan anak-anak mereka seperti Umar. "Apakah saya boleh bicara?" tanya Bakri kepada para hadirin. Semua orang mempersilakan.

"Hmmm...., hari ini adalah hari yang teramat bahagia untuk saya. Anda semua para ayah tak ada bedanya aku rasa. Kita menyekolahkan anak-anak kita di sekolah terbaik seperti sekolah ini. Dengan biaya yang tak murah, dengan segala fasilitas duniawi yang serba ada. Mungkin dibenak kita para ayah adalah jangan sampai anak-anak kita tidak bisa mengejar kemajuan dunia.... Terus terang aku sudah hampir 50 tahun. Aku punya empat orang anak, dan Umar adalah putraku yang terakhir. Dengan ambisi duniawiku, aku sekolahkan ia di sini dengan harapan bahwa ia akan memiliki masa depan gemilang. 

Aku tersadar bahwa pemikiran putraku ini justru telah membuat masa depanku gemilang. Ia mempelajari dan menghafal Kitabullah Al Quran agar supaya kedua orang tuanya memiliki masa depan yang gemilang di akhirat! Terima kasih anakku... Maafkan ayah yang lupa untuk mendidikmu untuk mempelajari Al Quran...."Bakri pun lalu memeluk Umar kembali. Keduanya menagis haru, dan seluruh kelas pun hening terdiam menyaksikannya.....!

Wassalam,
Bobby Herwibowo —  bersama Pipiet Senja, Suzan Saptono dan Jhanan AW.